Hari ini suasana kota jakarta yang
penuh dengan kepadatan jadwal sudah menyapaku di pagi ini dan mengiringi
langkahku menuju sekolah. Satu bulan yang lalu aku masih di Bandung bersama
ayah, ibu, dan kakak ku Dani. Dan kami masih memiliki rencana untuk berlibur
pada akhir tahun ini, tapi semua itu harus pupus dari hidup ku dan keluargaku.
Ketika pulang sekolah, ayah menungguku di rumah dengan terduduk lemas
di sofa, kepalanya ditundukkan seolah-olah ada beban berat diatas kepalanya.
Dan aku bertanya dalam hati, untuk apa ayah masih dirumah pada saat jam kantor
sedang sibuk-sibuknya. Aku berjalan mendekatinya dan duduk disampingnya.
“ayah, kenapa
ayah masih di rumah? Kenapa ayah tidak pergi kerja? Apa ayah sakit?” aku mulai
bertanya karena penasaran.
Kemudian ayah
memandang sendu kearahku dan semakin membuat aku penasaran apa yang sebenarnya
terjadi.
“ibu kamu...”
lalu ayah diam sejenak tanpa meneruskan kata-katanya.
“ibu kenapa yah?
Apa yang terjadi pada ibu?” aku mulai sedikit berteriak karena takut, apakah
kabar baik ataukah kabar buruk yang akan ku dengar dari mulut ayah.
“ibu masuk rumah
sakit. Tadi pagi, saat kamu berangkat kesekolah. Tiba-tiba ibu pingsan di kamar
mandi. Ayah langsung membawanya kerumah sakit dan sekarang ibu masih kritis ”
jelas ayah padaku. Dan tentu saja ini bukan suatu kabar baik melainkan kabar
yang amat sangat buruk. Saat aku mendengar penjelasan ayah, aku hanya terdiam
membatu di sofa tanpa berkedip, dan tidak berkomentar apapun. Karena khawatir
lalu ayah menyadarkan aku dari lamunanku yang singkat dengan menyentuh bahuku.
“aku ingin pergi
kerumah sakit, aku ingin bertemu dengan ibu.” Kataku membujuk ayah. Walaupun
pada awalnya ayah menolak, karena ayah tahu bahwa aku sangat takut masuk
kerumah sakit. Sejak kecil aku tidak pernah memasuki pintu rumah sakit. Pernah
ayah mencoba membawaku kerumah sakit, saat aku tengah sakit parah. Tetapi, saat
tiba dirumah sakit, aku hanya berteriak, menjerit dan meronta-ronta agar ayah
membawaku pulang. Dan, sejak saat itu, aku tidak pernah memasuki pintu rumah
sakit lagi sampai detik ini. Dan sekarang aku sendiri yang minta pergi kerumah
sakit untuk menemui ibu. Aku mengumpulkan keberanianku sejenak sebelum meminta
ayah mengantarku kerumah sakit
Setibanya dirumah sakit, aku masih
belum di izinkan dokter untuk bertemu dengan ibu. Karena keadaan ibu yang masih
sangat kritis, aku dan ayah memutuskan untuk menunggu di ruang tunggu. Karena
lelah, kepalaku kusandarkan pada bahu ayah. Ayah merangkulku dan memelukku erat. Ya.... memang
walaupun umurku sudah menginjak 16 tahun, tapi kelakuanku masih seperti anak
kecil. Aku akan marah, setiap kali kak Dani menjahiliku. Bahkan aku akan
mengadu pada ibu, supaya kak Dani nantinya dimarahi ibu. Tapi, ibu tetap tidak pernah memarahi kak Dani.
Meskipun kak Dani selalu saja membuat aku kesal.
Dari
kejauhan, kulihat sinar putih yang memancar. Karena penasaran, aku berjalan
mendekatinya. Hingga akhirnya, aku melewati sebuah pintu besar, menembus sinar
putih itu, menuju ke suatu tanah lapang yang sangat hijau. Aku berada di tengah
padang rumput yang penuh dengan bunga-bungan yang indah dan cantik, sejenak aku
menikmati suasana yang asri itu sebelum pada akhirnya aku melihat sesosok
wanita yang membelakangiku. Dia memakai
gaun panjang berwarna putih dan seakan-akan gaun itu memancarkan sinar putih
yang sangat terang, rambutnya terurai panjang, aku tidak melihat apakah dia
memakai
sepatu kaca
seperti Cinderella atau tidak, gaun itu menutupi hampir seluruh tubuhnya hingga
kekaki. Dengan langkah yang perlahan-lahan aku mendekati wanita itu, saat sudah
hampir sampai ketempat wanita itu berdiri aku baru menyadari wanita yang
kulihat itu adalah ibu, aku mulai sedikit berlari dan berharap bisa memeluknya
dengan erat, tapi kemudian ibu berbalik badan, aku juga menghentikan langkahku.
Dengan suara yang amat merdu dan lirih ibu berkata.
”Citra, maafkan
ibu. karena ibu tidak bisa menepati janji ibu padamu. Ibu tidak bisa menemani
kamu untuk selamanya, melihat kamu bahagia. Tapi ibu berharap kamu akan mencari
kebahagiaan kamu sendiri, walau tanpa ibu di sampingmu. Ibu ingin kamu bahagia
sayang. Carilah kebahagiaanmu, buatlah hidupmu bahagia bersama orang-orang yang
kamu sayangi. Ibu akan bahagia jika kamu bahagia pula. Selamat tinggal Citra.”
Aku mulai berlari
untuk mencegahnya pergi, tapi itu semua sia-sia karena ibu sudah lenyap dan
meninggalkan ku sendirian di padang rumput ini, aku terduduk sambil mengepalkan
tanganku, lalu berteriak sekencangnya “ibuuuuuuuuuu...... jangan tingalkan
Citra”
Lalu aku tersadar, itu semua hanya
mimpi tidak akan berarti apa-apa. Tapi wajah ibu sangat menyedihkan pucat, pasi
walaupun begitu ibu terlihat sangat cantik dalam mimpiku. Saat aku mulai
membuka mata ternyata kepalaku sudah berada dipangkuan kak Dani entah kapan dia
datang.
“ayah mana kak?”
tanyaku dengan suara yang sangat lirih, sambil membenahi rambutku yang kusut.
“tadi dokter
memanggil ayah untuk masuk kedalam” jelas kak Dani padaku.
Aku
mulai beranjak berdiri dan menuju kearah pintu, melihat pintu kamar itu sedikit
terbuka aku pun memasukan setengah kepalaku kedalam kamar dan mendengarkan apa
yang mereka bicarakan.
“Sirosis Hati” dokter itu menyebutkan
suatu nama yang sangat asing ditelingaku.
“pengerasan hati.
Apakah betul?” dokter itu bertanya pada ayah. Ayah menjawabnya dengan
mengangguk ringan, membenarkan apa yang dikatakan dokter itu.
“maaf pak, kami
sudah melakukan semaksimal mungkin tetapi pengerasan hati yang diderita istri
anda sudah sangat parah, dan kami tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Kami benar-benar
minta maaf pada bapak. Sekarang, hanya keajaiban yang dapat menolong istri
bapak” Jelas dokter pada ayah. Tanpa sengaja aku langsung membuka lebar pintu
itu dan berteriak.
“nggak... ibu
nggak boleh ninggalin Citra. Ibu harus sembuh, Citra sayang sama ibu, yah.!!
Citra nggak mau kehilangan ibu” aku berteriak sekeras-kerasnya, dan air mata
mulai mengalir dipipiku, aku berlari keluar, dan duduk di sebuah kursi panjang
yang berada dihalaman rumah sakit. Aku duduk dan menutupi wajahku dengan kedua
tanganku sambil menahan tangis. Tapi aku tetap tidak bisa menahannya, air mata
itu tetap mengalir turun melewati lekuk pipiku yang cubby.
“Citra, kakak
mengerti perasaan kamu gimana” tiba-tiba suara itu muncul tepat disebelahku dan
aku sangat mengenali suara itu, perlahan aku membuka tanganku yang menutupi
wajah dan menoleh kearah kak Dani.
“kakak yakin ibu
akan sembuh” kata kak Dani dan memeluk hangat tubuhku, baru kali ini aku
merasakan kehangatan dan kelembutan hati kak Dani.
Pada akhirnya, keajaiban itu tidak
pernah datang, perkataan kak Dani tidak pernah terbukti. Seminggu setelah hari
itu ibu akhirnya meninggalkan kami bertiga, menuju dunia yang lebih kekal dan
abadi. Setelah acara 7 harian sepeninggalnya ibu selesai, ayah mengajak kami
berbincang di ruang keluarga, dan menawarkan untuk pindah ke Jakarta, ayah
berharap kami akan mempunyai kehidupan yang lebih baik lagi disana.