Jumat, 31 Januari 2014

penantian cinta

KEBAHAGIANNKU

            Hari ini suasana kota jakarta yang penuh dengan kepadatan jadwal sudah menyapaku di pagi ini dan mengiringi langkahku menuju sekolah. Satu bulan yang lalu aku masih di Bandung bersama ayah, ibu, dan kakak ku Dani. Dan kami masih memiliki rencana untuk berlibur pada akhir tahun ini, tapi semua itu harus pupus dari hidup ku dan keluargaku.
Ketika pulang sekolah, ayah menungguku di rumah dengan terduduk lemas di sofa, kepalanya ditundukkan seolah-olah ada beban berat diatas kepalanya. Dan aku bertanya dalam hati, untuk apa ayah masih dirumah pada saat jam kantor sedang sibuk-sibuknya. Aku berjalan mendekatinya dan duduk disampingnya.
“ayah, kenapa ayah masih di rumah? Kenapa ayah tidak pergi kerja? Apa ayah sakit?” aku mulai bertanya karena penasaran.
Kemudian ayah memandang sendu kearahku dan semakin membuat aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
“ibu kamu...” lalu ayah diam sejenak tanpa meneruskan kata-katanya.
“ibu kenapa yah? Apa yang terjadi pada ibu?” aku mulai sedikit berteriak karena takut, apakah kabar baik ataukah kabar buruk yang akan ku dengar dari mulut ayah.
“ibu masuk rumah sakit. Tadi pagi, saat kamu berangkat kesekolah. Tiba-tiba ibu pingsan di kamar mandi. Ayah langsung membawanya kerumah sakit dan sekarang ibu masih kritis ” jelas ayah padaku. Dan tentu saja ini bukan suatu kabar baik melainkan kabar yang amat sangat buruk. Saat aku mendengar penjelasan ayah, aku hanya terdiam membatu di sofa tanpa berkedip, dan tidak berkomentar apapun. Karena khawatir lalu ayah menyadarkan aku dari lamunanku yang singkat dengan menyentuh bahuku.
“aku ingin pergi kerumah sakit, aku ingin bertemu dengan ibu.” Kataku membujuk ayah. Walaupun pada awalnya ayah menolak, karena ayah tahu bahwa aku sangat takut masuk kerumah sakit. Sejak kecil aku tidak pernah memasuki pintu rumah sakit. Pernah ayah mencoba membawaku kerumah sakit, saat aku tengah sakit parah. Tetapi, saat tiba dirumah sakit, aku hanya berteriak, menjerit dan meronta-ronta agar ayah membawaku pulang. Dan, sejak saat itu, aku tidak pernah memasuki pintu rumah sakit lagi sampai detik ini. Dan sekarang aku sendiri yang minta pergi kerumah sakit untuk menemui ibu. Aku mengumpulkan keberanianku sejenak sebelum meminta ayah mengantarku kerumah sakit
            Setibanya dirumah sakit, aku masih belum di izinkan dokter untuk bertemu dengan ibu. Karena keadaan ibu yang masih sangat kritis, aku dan ayah memutuskan untuk menunggu di ruang tunggu. Karena lelah, kepalaku kusandarkan pada bahu ayah. Ayah    merangkulku dan memelukku erat. Ya.... memang walaupun umurku sudah menginjak 16 tahun, tapi kelakuanku masih seperti anak kecil. Aku akan marah, setiap kali kak Dani menjahiliku. Bahkan aku akan mengadu pada ibu, supaya kak Dani nantinya dimarahi ibu.  Tapi, ibu tetap tidak pernah memarahi kak Dani. Meskipun kak Dani selalu saja membuat aku kesal.
            Dari kejauhan, kulihat sinar putih yang memancar. Karena penasaran, aku berjalan mendekatinya. Hingga akhirnya, aku melewati sebuah pintu besar, menembus sinar putih itu, menuju ke suatu tanah lapang yang sangat hijau. Aku berada di tengah padang rumput yang penuh dengan bunga-bungan yang indah dan cantik, sejenak aku menikmati suasana yang asri itu sebelum pada akhirnya aku melihat sesosok wanita yang membelakangiku. Dia   memakai gaun panjang berwarna putih dan seakan-akan gaun itu memancarkan sinar putih yang sangat terang, rambutnya terurai panjang, aku tidak melihat apakah dia memakai 

sepatu kaca seperti Cinderella atau tidak, gaun itu menutupi hampir seluruh tubuhnya hingga kekaki. Dengan langkah yang perlahan-lahan aku mendekati wanita itu, saat sudah hampir sampai ketempat wanita itu berdiri aku baru menyadari wanita yang kulihat itu adalah ibu, aku mulai sedikit berlari dan berharap bisa memeluknya dengan erat, tapi kemudian ibu berbalik badan, aku juga menghentikan langkahku. Dengan suara yang amat merdu dan lirih ibu berkata.
”Citra, maafkan ibu. karena ibu tidak bisa menepati janji ibu padamu. Ibu tidak bisa menemani kamu untuk selamanya, melihat kamu bahagia. Tapi ibu berharap kamu akan mencari kebahagiaan kamu sendiri, walau tanpa ibu di sampingmu. Ibu ingin kamu bahagia sayang. Carilah kebahagiaanmu, buatlah hidupmu bahagia bersama orang-orang yang kamu sayangi. Ibu akan bahagia jika kamu bahagia pula. Selamat tinggal Citra.”
Aku mulai berlari untuk mencegahnya pergi, tapi itu semua sia-sia karena ibu sudah lenyap dan meninggalkan ku sendirian di padang rumput ini, aku terduduk sambil mengepalkan tanganku, lalu berteriak sekencangnya “ibuuuuuuuuuu...... jangan tingalkan Citra”
            Lalu aku tersadar, itu semua hanya mimpi tidak akan berarti apa-apa. Tapi wajah ibu sangat menyedihkan pucat, pasi walaupun begitu ibu terlihat sangat cantik dalam mimpiku. Saat aku mulai membuka mata ternyata kepalaku sudah berada dipangkuan kak Dani entah kapan dia datang.
“ayah mana kak?” tanyaku dengan suara yang sangat lirih, sambil membenahi rambutku yang kusut.
“tadi dokter memanggil ayah untuk masuk kedalam” jelas kak Dani padaku.
                Aku mulai beranjak berdiri dan menuju kearah pintu, melihat pintu kamar itu sedikit terbuka aku pun memasukan setengah kepalaku kedalam kamar dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Sirosis Hati” dokter itu menyebutkan suatu nama yang sangat asing ditelingaku.
“pengerasan hati. Apakah betul?” dokter itu bertanya pada ayah. Ayah menjawabnya dengan mengangguk ringan, membenarkan apa yang dikatakan dokter itu.
“maaf pak, kami sudah melakukan semaksimal mungkin tetapi pengerasan hati yang diderita istri anda sudah sangat parah, dan kami tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Kami benar-benar minta maaf pada bapak. Sekarang, hanya keajaiban yang dapat menolong istri bapak” Jelas dokter pada ayah. Tanpa sengaja aku langsung membuka lebar pintu itu dan berteriak.
“nggak... ibu nggak boleh ninggalin Citra. Ibu harus sembuh, Citra sayang sama ibu, yah.!! Citra nggak mau kehilangan ibu” aku berteriak sekeras-kerasnya, dan air mata mulai mengalir dipipiku, aku berlari keluar, dan duduk di sebuah kursi panjang yang berada dihalaman rumah sakit. Aku duduk dan menutupi wajahku dengan kedua tanganku sambil menahan tangis. Tapi aku tetap tidak bisa menahannya, air mata itu tetap mengalir turun melewati lekuk pipiku yang cubby.
“Citra, kakak mengerti perasaan kamu gimana” tiba-tiba suara itu muncul tepat disebelahku dan aku sangat mengenali suara itu, perlahan aku membuka tanganku yang menutupi wajah dan menoleh kearah kak Dani.
“kakak yakin ibu akan sembuh” kata kak Dani dan memeluk hangat tubuhku, baru kali ini aku merasakan kehangatan dan kelembutan hati kak Dani.
            Pada akhirnya, keajaiban itu tidak pernah datang, perkataan kak Dani tidak pernah terbukti. Seminggu setelah hari itu ibu akhirnya meninggalkan kami bertiga, menuju dunia yang lebih kekal dan abadi. Setelah acara 7 harian sepeninggalnya ibu selesai, ayah mengajak kami berbincang di ruang keluarga, dan menawarkan untuk pindah ke Jakarta, ayah berharap kami akan mempunyai kehidupan yang lebih baik lagi disana.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar